NASKAH SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)

Nama Mata Kuliah : Model-model PAUD

Dosen : Badru Zaman, M.Pd

Sifat : Take Home Examination

Petunjuk:

  1. Jawablah semua soal dengan benar namun singkat (mengemukakan inti-inti utamanya dari persoalan yang ditanyakan)

  2. Lembar jawaban maksimal 2 halaman dengan diketik komputer

  3. Perhatikan setiap kata yang digarisbawahi karena bagian itu inti pertanyaannya

  4. Jawaban yang sama tidak akan diperiksa

  5. Hasil jawaban dikumpulkan di loker dosen mata kuliah maksimal hari Rabu, 26-8-2009.

Soal:

  1. Pengetahuan, pemahaman, penghayatan dan keterampilan untuk menerapkan model pendidikan, model pembelajaran dalam konteks PAUD sangatlah penting untuk dikuasai oleh para pendidik PAUD. Coba Anda kemukakan alasan terhadap hal tersebut!

  1. Berdasarkan makalah yang telah Anda presentasikan di kelas, prinsip-prinsip pendidikan dan pembelajaran PAUD penting apa yang dikemukakan oleh model tersebut yang penting diterapkan dalam pendidikan dan pembelajaran PAUD?

  1. Menurut Anda, apakah model PAUD yang Anda presentasikan dapat diterapkan di Indonesia? Coba identifikasi peluang dan hambatan dalam menerapkan model tersebut!

  1. Dalam konteks Indonesia, sebenarnya telah diimplementasikan beberapa model PAUD sebagaimana yang telah dipresentasikan, Model PAUD apa sajakah itu? Apa saja kendala yang dihadapi dalam menerapkan model-model tersebut dalam perspektif pendidikan sebagai suatu sistem?

*** Selamat Bekerja, Semoga Sukses***

FORMULIR PENILAIAN KEMAMPUAN ANAK

KAWAN-KAWAN AYO KITA BERJUANG!!!
FORMULIR PENILAIAN KEMAMPUAN ANAK

Anak dengan perilaku menantang: ___________________
Tanggal interview : ______________________
Usia : __________ tahun ________ bulan
Jenis kelamin : ______________ responden : ________________

A. PENJELASAN PERILAKU
1. Perilaku apa yang muncul? Seberapa sering perilaku tersebut muncul dalam sehari, seminggu, sebulan? Berapa lama perilaku tersebut muncul dan bagaimana dengan intensitasnya kemunculannya (rendah, sedang, tinggi)?

No Perilaku Bagaimana Cara Menunjukkannya Seberapa Sering Berapa Lama? Intensitasnya?

2. Perilaku apa yang biasanya muncul bersama (misal muncul pada waktu yang sama; muncul sebagai sebuah ‘mata rantai’, muncul sebagai respon terhadap situasi yang sama)?
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

B. IDENTIFIKASI KEJADIAN YANG MEMPENGARUHI PERILAKU

1. Obat apa yang diambil anak, dan bagaimana obat tersebut memberikan pengaruh pada perilaku anak?
__________________________________________________________________________________
2. Apa ada komplikasi obat (jika ada) bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku anak (misalnya asma, alergi, sinus dll)?
__________________________________________________________________________________
3. Jelaskan tentang rutinitas tidur anak dan pengaruhnya pada perilaku anak
__________________________________________________________________________________
4. Jelaskan tentang rutinitas anak dan pengaruhnya terhadap perilaku anak
__________________________________________________________________________________
5. jelaskan secara singkat jadwal dan aktivitas harian anak dan bagaimana ia melalui aktivitasnya tersebut.

AKTIVITAS HARIAN
WAKTU AKTIVITAS REAKSI ANAK

6. Jelaskan tingkat aktivitas apa yang dapat diprediksi anak. Pada tingkat apa anak tahu apa yang akan dia lakukan (misal, pada saat bangun tidur, pada saat sarapan, pada saat bermain di luar) sejauh mana anak mengetahuinya?
__________________________________________________________________________________
7. Pilihan apa saja yang anak lakukan (misalnya aktivitas memilih makanan, mainan, dan aktivitas)?
__________________________________________________________________________________

C. JELASKAN PERISTIWA DAN SITUASI YANG MEMICU PERILAKU
1. Waktu dalam sehari: kapan perilaku itu sering dan jarang muncul?
Sering: __________________________________________________________________________
Jarang: __________________________________________________________________________
2. Setting: di mana perilaku itu sering dan jarang muncul?
Sering: __________________________________________________________________________
Jarang: __________________________________________________________________________
3. Kontrol sosial: saat dengan siapa perilaku ini sering dan jarang muncul?
Sering: __________________________________________________________________________
Jarang: __________________________________________________________________________
4. Aktivitas: aktivitas apa yang seringkali dan jarang memunculkan perilaku ini?
Sering: __________________________________________________________________________
Jarang: __________________________________________________________________________
5. Apakah ada situasi lain yang tidak dijelaskan di atas yang dapat memunculkan perilaku (interupsi, penundaan, tidak diperhatikan, dll)?
6. Hal apa yang anda lakukan yang biasanya memicu perilaku ini?
7. Hal apa yang anda lakukan yang menekan perilaku ini tidak muncul?

D. JELASKAN KEMAMPUAN BERMAIN DAN KESULITAN ANAK
1. Gambarkan bagaimana anak bermain (dengan apa? Seberapa sering?)
2. Apakah anak menunjukkan perilaku menantang saat bermain? Jelaskan.
3. Apakah anak bermain sendiri? Apa yang ia lakukan?
4. Apakah anak bermain dengan orang dewasa? Dengan mainan atau permainan apa?
5. Apakah anak bermain dengan teman sebaya? Dengan mainan atau permainan apa?
6. Apa reaksi anak saat Anda bergabung dengan aktivitas bermainnya?
7. Apa reaksi anak saat Anda berhenti bermain dengannya?
8. Apa reaksi anak saat Anda menyuruhnya berhenti bermain dengan permainan yang sama dan mengganti dengan permainan lainnya?

E. JELASKAN “FUNGSI” DARI PERILAKU MENANTANG
1. Pikirkan perilaku yang terdaftar dalam kolom A, kemudian jelaskan fungsi dan perlakuan seperti apa yang pantas ditujukan untuk anak (sebagai contoh, apa yang ia dapat atau hindari saat berperilaku tersebut?)
Perilaku Apa yang ia dapat atau apa yang ia hidari?

2. Jelaskan respon umum anak pada situasi berikut:
a. Apa perilaku di atas sering muncul, tidak sering muncul atau tidak berdampak saat Anda memberinya tugas yang sulit?
b. Apa perilaku di atas sering muncul, tidak sering muncul atau tidak berdampak saat Anda mengganggu aktivitas kegemarannya (memakan es krim, menonton video)?
c. Apa perilaku di atas sering muncul, tidak sering muncul atau tidak berdampak saat Anda memberikan tugas/perintah?
d. Apa perilaku di atas sering muncul, tidak sering muncul atau tidak berdampak saat Anda ada namun tidak bereaksi (menghiraukan) anak selama 15 menit?
e. Apa perilaku di atas sering muncul, tidak sering muncul atau tidak berdampak pada saat adanya perubahan rutinitas?
f. Apa perilaku di atas sering muncul, tidak sering muncul atau tidak berdampak saat apa yang diinginkan anak ada namun tidak bisa didapatkannya (sebagai contoh mainan yang ada namun berada di luar jangkauannya)?
g. Apa perilaku di atas sering muncul, tidak sering muncul atau tidak berdampak saat ia sendirian (tidak ada kehadiran orang lain)?

F. SEBERAPA “BAIK” PERILAKU INI BEKERJA
1. Apa hasil usaha fisik dihubungkan dengan perilaku (misalnya memperpanjang intensitas tantrum vs ledakan kata-kata sederhana, dsb)?
2. Apa keterlibatan perilaku menghasilkan “payoff” (mendapatkan perhatian, menghindari pekerjaan) setiap waktu? Hampir setiap waktu? Sesekali?
3. Berapa lama penundaan pada saat anak terlibat dengan perilaku dengan “payoff”? apa segera, butuh beberapa waktu, lebih lama?

G. BAGAIMANA ANAK BERKOMUNIKASI
1. Strategi ekspresi komunikasi apa yang digunakan atau berguna bagi anak (misal, vokal, gestur, komunikasi buku, alat elektronik, dan lain sebagainya) seberapa konsisten strategi digunakan?
2. Jika anak mencoba mengatakan sesuatu atau menunjukkan sesuatu dan Anda tidak mengerti, apa yang akan anak lakukan? (mengulangi tindakan atau ucapan? Memodifikasi tindakan atau ucapan?)
3. Ceritakan bagaimana anak mengekspresikan hal-hal berikut:

FUNCTION Genggam dan jangkau berikan poin memimpin Perubahan tatapan Bergerak menuju Anda Bergerak menjauhi Anda Kepala mengangguk / menggeleng Ekspresi wajah vokal Echo langsung Echo yang tertunda Kata-kata kreatif tunggal Kata-kata kreatif jamak Tanda sederhana Tanda kompleks Melukai diri sendiri Agresi tantrum Menangis atau merajuk Yang lainnya Tidak ada
Meminta sesuatu
Meminta tindakan
Protes atau melarikan diri
Meminta bantuan
Meminta sosialisasi rutin
Meminta kenyamanan
Mengindikasikan sakit
Menunjukkan Anda sesuatu

4. Dengan memperhatikan kemampuan penerimaan komunikasi:
a. Apa anak tahu permintaan atau instruksi verbal? Jika tahu, berapa banyak? (daftarkan jika hanya sedikit)
b. Apakah anak mampu menirukan seseorang mendemonstrasikan bagaimana melakukan tugas atau bermain sendiri?
c. Apakah anak merespon bahasa simbol atau gestur? Jika iya, biasanya berapa banyak? (daftarkan jika hanya sedikit)
d. Bagaimana anak mengatakan “iya” atau “tidak” (jika anak meminta untuk melakukan sesuatu, pergi ke suatu tempat, dll)

H. JELASKAN PILIHAN ANAK DAN INTERVENSI PERILAKU SEBELUMNYA
1. Gambarkan hal yang benar-benar dinikmati anak. Sebagai contoh, apa yang membuatnya gembira? Apa yang mungkin orang lakukan untuk membuat anak bahagia?
2. Apa yang Anda lakukan atau coba untuk mengganti dan merubah perilaku menantang tersebut?

I. PERNYATAAN SIMPULAN PERKEMBANGAN UNTUK SETIAP PEMICU UTAMA DAN ATAU KONSEKWENSINYA

Setting acara terpisah Kata dengan segera (pemicu) Masalah perilaku Menjaga konsekwensi fungsi

Soal Statistik

Berikut ini data mengenai jumlah uang yang digunakan untuk membeli sumber belajar di sekolah-sekolah di Bandung dalam sebulan;

1.100.000

260.000

205.000

970.000

1.430.000

300.000

4.040.000

460.000

350.000

620.000

480.000

485.000

125.000

405.000

85.000

2.805.000

690.000

1.430.000

1.555.000

1.160.000

70.000

180.000

3.360.000

325.000

875.000

705.000

145.000

Carilah mean, median, modus dan diagram polygon dari data tersebut

Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan

Bahasa Indonesia adalah bahasa rasmi Republik Indonesia. Pada saat ini, Bahasa Indonesia dipergunakan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Bahasa Indonesia adalah bahasa rasmi, dan bahasa pertama yang digunakan, selain bahasa daerah seperti bahasa jawa atau bahasa sunda.

Kita sebagai warga bangsa Idonesia yang mengaku berbahasa Indonesia terkadang tidak tahu bagaimana sebenarnya sejarah bahasa Indonesia. Di seluruh dunia terdapat + 1500 jenis bahasa. Bahasa sebanyak itu dibagi menjadi 4 rumpun, yaitu rumpun bahasa Indogerman, rumpun bahasa Semit, rumpun Bahasa Altai, dan rumpun bahasa Austria. (Ambary, 1986:1)

Rumpun bahasa Indogerman, yaitu segala bahasa yang terdapat di benua Eropa, kecuali bahasa ongaria, Rusia, dan Armenia. Sedangkan rumpun bahasa Semit, yaitu bahasa yang dipakai oleh bangsa Arab, Yahudi, dan Abessinia. Selain itu, rumpun bahasa Altai yaitu bahasa yang dipakai oleh bangsa Turki, Mongolia, Mansyuria, Jepang, dan yang terakhir yakni rumpun bahasa Austria, yakni bahasa yang dipakai oleh bangsa-bangsa asli daratan Asia Tenggara. (Ambary, 1986:1)

Rumpun bahasa Austria terbagi menjadi dua kelompok bahasa, yaitu bahasa Austro-Asia dan Bahasa Austronesia. Bahasa Austronesia (Melayu Polinesia) juga dapat dibagi atas dua golongan, yaitu bahasa Austronesia di sebelah timur dan bahasa Austronesia di sebelah barat.

Dari berbagai macam rumpun bahasa di dunia yang telah disebutkan, bahasa-bahasa yang ada di Republik Indonesia termasuk ke dalam rumpun bahasa Austria golongan bahasa Austronesia di sebelah barat. Republik Indonesia memiliki keraneka ragama bahasa yang tersebar di setiap daerahnya. Selain dari bahasa-bahasa daerah di Republik Indonesia itu, menurut sejarah, di abad ke-7 saat zaman keemasan kerajaan Sriwijaya, dijumpai prasasti bertuliskan bahasa Melayu yang merupakan bahasa di sekitar Selat Malaka dan yang sekarang disebut sebagai bahasa Indonesia Lama.

Sejak berabad-abad yang lampau bahasa Melayu dipergunakan sebagai bahasa perhubungan/pergaulan atau Lingua franca. Dengan bantuan pedagang, bahasa Melayu ini tersebar hamper di seluruh daerah pesisir pulau-pulau Nusantara. Setelah lama menjadi Lingua franca di kawasan tanah air, dan karena bahasa Melayu mudah dipelajari dilihat dari kesederhanaan system tata bunyi, tata kata, dan tata kalimat, akhirnya bahasa Melayu diangkat menjadi bahasa persatuan. Selain alasan itu, kesadaran dari seluruh bangsa yang ada di Indonesia akan pentingnya kesatuan dan persatuan dan adanya kesanggupan pada bahasa Melayu untuk dipakai menjadi bahasa kebudayaan dalam arti luas, dan akan berkembang menjadi bahasa yang sempurna merupakan hal-hal yang memungkinkan pengangkatan bahasa melayu menjadi bahasa persatuan.

Bila kita perhatikan susunan kalimat bahasa Indonesia saat ini nampak persamaannya dengan bahasa Melayu, lebih-lebih dalam perbendaharaan kata-katanya, dengan itu jelas sudah bahwa bahasa Melayu adalah bahasa yang mendasari Bahasa Indonesia.

Awal penciptaan Bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa bermula dari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, yang berbunyi “Kita berbangsa satu Bangsa Indonesia, Kita berbahasa satu Bahasa Indonesia, Kita bertanah air satu Tanah air Indonesia”. Sejak itulah bahasa Melayu yang demokratis atau tidak mengenal tingkatan-tingkatan, menjadi bahasa Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian diperkaya oleh bahasa-bahasa daerah di Nusantara, sehingga terdapat hubungan saling mengisi dengan bahasa daerah.

Pada awalnya, Bahasa Indonesia ditulis dengan tulisan Latin-Romawi mengikuti ejaan Belanda. Selepas tahun 1972, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dicandangkan. Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia semakin distandardkan. Perubahan:

Sebelum 1972

Sejak 1972

Indonesia

Malaysia

tj

ch

C

dj

j

J

ch

kh

Kh

nj

ny

Ny

sj

sh

Sy

j

y

Y

oe*

u

U

*Catatan: Pada tahun 1947, “oe” sudah digantikan dengan “u”.

Perbendaharaan kata dari bahasa Indonesia kini tidak hanya berisi kata-kata yang disempurnakan dari bahasa melayu, tetapi diperkaya juga dengan kata-kata yang diserap atau diambil dari hasil hubungan kebudayaan bangsa Indonesia dengan bangsa lain bahkan dari agama yang ada di Indonesia. Contohnya yaitu kata-kata yang diserap dari bahasa yang digunakan dalam agama hindu (sanskerta), dalam agama Islam (bahasa Arab), dan kata-kata yang diambil dari hasil penjajahan yang terjadi di atas bumi pertiwi Indonesia, yaitu bahasa Belanda, bahasa Inggris, bahasa Portugis. Selain itu bahasa Indonesia juga meminjam perbendaharaan kata dari bahasa cina. (wikipedia.com)

Sejarah dari bahasa Indonesia yang telah dijelaskan, cukup jelas juga menyebutkan apa fungsi dan bagaimana kedudukan bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia. Fungsi dari bahasa Indonesia bagi bangsa Indonesia adalah sebagai pemersatu suku-suku bangsa di Republik Indonesia yang beraneka ragam. Setiap suku bangsa yang begitu menjunjung nilai adat dan bahasa daerahnya masing-masing disatukan dan disamakan derajatnya dalam sebuah bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia, dan memandang akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, maka setiap suku bangsa di Indonesia bersedia menerima bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional. Selain itu, fungsi dari bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa ibu yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi bagi yang yang tidak bisa bahasa daerah. Seiring perkembangan zaman, sebagian besar warga negara Indonesia melakukan transmigrasi atau pindah dari daerah dia berasal ke daerah lain di Indonesia, sehingga di sinilah peran dan fungsi bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi antar suku bangsa yang berbeda, agar mereka tetap dapat saling berinteraksi.

Kedudukan bahasa Indonesia di negara Republik Indonesia itu selain sebagai bahasa persatuan juga sebagai bahasa negara atau bahasa Nasional dan sebagai budaya. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, maksudnya sudah jelas karena fungsi dari bahasa Indonesia itu sendiri adalah sebagai pemersatu suku bangsa yang beraneka ragam yang ada di Indonesia.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara atau bahasa Nasional, maksudnya bahasa Indonesia itu adalah bahasa yang sudah diresmikan menjadi bahasa bagi seluruh bangsa Indonesia. Sedangkan bahasa Indonesia sebagai budaya maksudnya, bahasa Indonesia itu merupakan bagian dari budaya Indonesia dan merupakan ciri khas atau pembeda dari bangsa yang lain.

Penulis : Auliana Cahya Ifani (2007)

“ KREATIVITAS “

J Definisi Kreativitas J

                Kreativitas didefinisikan secara berbeda-beda. Keberagaman definisi itu, sehingga pengertian kreativitas itu tergantung pada bagaimana orang mendefinisikannya –“creativity is a matter of definition”. Tidak ada satu definisi pun yang dianggap dapat mewakili pemahaman yang beragam tentang kreativitas (Supriadi, 2001: 6). Hal ini disebabkan oleh dua alasan, yaitu:

1.       Kreativitas merupakan ranah psikologis yang kompleks dan multidimensional, yang mengandung berbagai tafsiran yang beragam

2.       definisi-definisi kreativitas memberikan tekanan yang berbeda-beda, tergantung dasar teori yang  menjadi acuan pembuat definisi.

Supriadi (2001: 7) menyimpulkan bahwa pada intinya kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

Beradasarkan analisis faktor, Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif, yaitu:

ü      Kelancaran à kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan.

ü      Keluwesan à kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah.

ü      Keaslian à kemampuan menciptakan sesuatu yang asli karya sendiri.

ü      Elaborasi atau penguraian à kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci.

ü      Perumusan kembali à kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang.

 

J Kriteria Kreativitas J

                Amabile (1983) penentuan kriteria kreativitas menyangkut tiga dimensi yaitu:

  1. Dimensi proses à segala produk yang dihasilkan dari proses situ dianggap sebagai produk kreatif.
  2. Dimensi person à sering dikatakan sebagai kepribadian kreatif. Menurut Guilford, kepribadian kreatif meliputi dimensi kognitif (bakat) dan dimensi non-kognitif (minat, sikap, dan kualitas tempramental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian yang signifikan, berbeda dengan orang-orang yang kurang kreatif.
  3. Dimensi produk kreatif à menunjuk pada hasil perbuatan, kinerja, atau karya seseorang dalam bentuk barang atau gagasan. Kriteria ini  disebut “kriteria puncak” dagi kreativitas karena dipandang sebagai yang paling eksplisit untuk menentukan kreativitas seseorang.

Dalam berbagai studi, criteria kreativitas dibedakan pula ke dalam dua jenis (Ghiselin, 1963; Shapiro, 1973). Pertama, criteria berdasarkan produk kreatif yang ditampilkan oleh seseorang selama hidupnya maupun dibatasi hanya ketika ia menyelesaikan suatu karya kreatif. Kedua, kriteria yang didasarkan pada konsep atau definisi kreativitas yang dijabarkan ke dalam indikator-indikator perilaku kreatif.

 

J Asumsi Kreativitas J

                Terdapat enam asumsi kreativitas yang diangkat dari teori dan berbagai studi tentang kreativitas. Diantaranya yaitu:

*      Setiap orang memiliki kemampuan kreatif dengan tingkat yang berbeda-beda. Treffinger (1980: 15) mengemukakan bahwa tidak ada orang yang sama sekali tidak mempunyai kreativitas, seperti halnya tidak ada seorang pun manusia yang inteligensinya nol.

*      Kreativitas dinyatakan dalam bentuk produk-produk kreatif, baik berupa benda maupun gagasan. Tinggi atau rendahnya kualitas karya kreatif seseorang dapat dinilai berdasarkan orisinalitas atau kebaruan karya itu dan sumbangannya secara konstruktif bagi perkembangan kebudayaan dan peradaban.

*      Aktualisasi kreativitas merupakan hasil dari proses interaksi antara faktor-faktor psikologis (internal) dengan lingkungan (eksternal).

*      Dalam diri seseorang dan lingkungannya terdapat faktor-faktor yang dapat menunjang atau justru menghambat perkembangan kreativitas.

*      Kreativitas seseorang tidak berlangsung dalam kevakuman, melainkan didahului oleh hasil-hasil kreativitas orang-orang yang berkarya sebelumnya. Dapat dikatakan juga sebagai kemampuan seseorang menciptakan kombinasi baru dari hal yang telah ada sehing menghasilkan sesuatu yang baru.

*      Karya kreatif tidak lahir hanya karena kebetulan, melainkan melalui serangkaian proses kreatif yang menuntut kecakapan, keterampilan, dan motivasi yang kuat. Ada tiga factor yang menentukan prestasi kreatif seseorang, yaitu: motivasi atau komitmen yang tinggi, keterampilan dalam bidang yang ditekuni, dan kecakapan kreatif.

 

J Faktor Pendukung dan Penghambat Kreativitas Anak J

NO

FAKTOR

PENDUKUNG

PENGHAMBAT

1.

 

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4.

 

 

 

 

 

 

 

 

5.

 

 

6.

 

 

 

 

Sikap Pendidik

 

 

 

 

Strategi Mengajar

 

 

 

 

 

 

 

 

Sarana Pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan Ruang/Fisik

 

 

 

 

 

 

 

Teman

 

 

Orangtua

-      Sabar, telaten, dan ramah serta menerima anak sebagai pribadi yang unik dan berbeda.

 

 

-      Penekanan pada bermain sambil belajar dan bukan pada penilaian, metode pembelajaran bermacam-macam dan berganti-ganti, memberi tugas yang bervariasi, dan menghargai hasil karya anak.

 

 

-      Tersedianya bermacam-macam alat permainan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-      Penataan ruang kelas yang terbuka dan diubah dalam kurun waktu tertentu.

-      Tampilan dinding ruang bermain yang menarik.

 

 

 

 

-      Sikap bersahabat

 

 

-      Memberi kebebasan

-      Menghargai dan menerima anak

-      Menunjang dan mendorong kegiatan anak

-      Menyediakan cukup sarana

-      Pengertian pendidik tentang konsep kreativitas masih kurang

 

 

 

-      Terdapat metode pembelajaran yang jarang atau bahkan tidak digunakan.

 

 

 

 

 

-      Jenis alat permainan yang tergolong alat permainan kreatif masih kurang.

-      Tak ada penambahan alat permainan baru untuk waktu yang lama.

-      Permainan yang rusak tidak segera diganti.

-      Terdapat permainan yang hanya disimpan dalam laci.

-      Pengadaan bahan belajar butuh waktu lama.

 

 

-      Dinding ruang kelas terkesan kosong dan tidak menarik.

-      Ruang kelas tidak dipenuhi produk hasil karya anak.

-      Alat permainan tidak ditata dengan rapi dan menarik.

 

 

-      Sikap memusuhi

 

 

-      Turut masuk di dalam kelas dan membantu anak pada saat istirahat/makan.

-      Tidak sabar dengan anak

-      Terlalu memanjakan

 

Antara IQ, EQ, dan SQ

* Sejarah keterkaitan IQ, EQ dan SQ.

Intelligence Quotient atau yang biasa disebut dengan IQ merupakan istilah dari pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian Lewis Ternman dari Universitas Stanford berusaha membakukan test IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mengembangkan norma populasi, sehingga selanjutnya test IQ tersebut dikenal sebagai test Stanford-Binet. Pada masanya kecerdasan intelektual (IQ) merupakan kecerdasan tunggal dari setiap individu yang pada dasarnya hanya bertautan dengan aspek kognitif dari setiap masing-masing individu tersebut.

          Kecerdasan intelektual (IQ) diyakini menjadi sebuah ukuran standar kecerdasan selama bertahun-tahun. Bahkan hingga hari ini pun masih banyak orangtua yang mengharapkan anak-anaknya pintar, terlahir dengan IQ (intelligence quotient) di atas level normal (lebih dari 100). Syukur-syukur kalau bisa jadi anak superior dengan IQ di atas 130. Harapan ini tentu sah saja. Dalam paradigma IQ dikenal kategori hampir atau genius kalau seseorang punya IQ di atas 140. Albert Einstein adalah ilmuwan yang IQ-nya disebut-sebut lebih dari 160.

Namun, dalam perjalanan berikutnya orang mengamati, dan pengalaman memperlihatkan, tidak sedikit orang dengan IQ tinggi, yang sukses dalam studi, tetapi kurang berhasil dalam karier dan pekerjaan. Dari realitas itu, lalu ada yang menyimpulkan, IQ penting untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi kemudian jadi kurang penting untuk menapak tangga karier. Untuk menapak tangga karier, ada sejumlah unsur lain yang lebih berperan. Misalnya saja yang mewujud dalam seberapa jauh seseorang bisa bekerja dalam tim, seberapa bisa ia menenggang perbedaan, dan seberapa luwes ia berkomunikasi dan menangkap bahasa tubuh orang lain. Unsur tersebut memang tidak termasuk dalam tes kemampuan (aptitude test) yang ia peroleh saat mencari pekerjaan. Pertanyaan sekitar hal ini kemudian terjawab ketika Daniel Goleman menerbitkan buku Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ (1995).

Sebelumnya, para ahli juga telah memahami bahwa kecerdasan tidak semata-mata ada pada kemampuan dalam menjawab soal matematika atau fisika. Kecerdasan bisa ditemukan ketika seseorang mudah sekali mempelajari musik dan alat-alatnya, bahkan juga pada seseorang yang pintar sekali memainkan raket atau menendang bola. Ada juga yang berpendapat kecerdasan adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan, dan lainnya beranggapan kecerdasan adalah kemampuan untuk berpikir secara abstrak dan seterusnya.

Kemudian dari berbagai hasil penelitian, telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peran yang jauh lebih significant disbanding kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak (IQ) barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya (hampir seluruhnya terbukti) mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Terbukti banyak orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, terpuruk di tengah persaingan. Sebaliknya banyak orang yang kecerdasan intelektualnya biasa-biasa saja, justru sukses menjadi bintang-bintang kinerja, pegusaha-pengusaha sukses, dan pemimpin-pemimpin di berbagai kelompok. Di sinilah kecerdasan emosi atau emotional quotient (EQ) membuktikan eksistensinya.

EQ adalah istilah baru yang dipopulerkan oleh Daniel Goleman. Berdasarkan hasil penelitian para neurolog dan psikolog, Goleman (1995) berkesimpulan bahwa setiap manusia memiliki dua potensi pikiran, yaitu pikiran rasional dan pikiran emosional. Pikiran rasional digerakkan oleh kemampuan intelektual atau yang popular dengan sebutan “Intelligence Quotient” (IQ), sedangkan pikiran emosional degerakan oleh emosi.

EQ merupakan serangkaian kemampuan mengontrol dan menggunakan emosi, serta mengendalikan diri, semangat, motivasi, empati, kecakapan sosial, kerja sama, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Dengan berkembangnya teknologi pencritaan otak (brain-imaging), yaitu sebuah teknologi yang kini membantu para ilmuwan dalam memetakan hati manusia, semakin memperkuat keyakinan kita bawa otak memiliki bagian rasional dan emosional yang saling bergantung.

Setelah itu, ketika seseorang dengan kemampuan EQ dan IQ-nya berhasil merai prestasi dan kesuksesan, acapkali rang tersebut disergap oleh perasaan “kosong” dan hampa dalam celah batin kehidupanya. Setelah prestasi puncak telah dipijak, ketika semua pemuasan kebedaan telah diraihnya, setelah uang hasil jeri payah berada dalam genggaman, ia tak tahu lagi ke mana harus melangkah. Untuk apa semua prestasi itu diraihnya?, hingga hampir-hampir diperbudak oleh uang serta waktu tanpa tahu dan mengerti di mana ia harus berpijak?.

Di sinilah kecerdasan spiritual atau yang biasa disebut SQ muncul untuk melengkapi IQ dan EQ yang ada di diri setiap orang. Danah Zohar da Ian Marshall mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Spiritual Quotient (SQ) adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual), seperti di bawah ini:

   

 

* Indikator dan alat ukur IQ, EQ dan SQ.

          Berdasarkan pengalaman, tidak ada indikator dan alat ukur yang jelas untuk mengukur atau menilai kecerdasan setiap individu, kecuali untuk kecerdasan intelektual atau IQ, dalam konteks ini dikenal sebuah tes yang biasa disebut dengan psikotest untuk mengetahui tingkat IQ seseorang, akan tetapi test tersebut juga tidak dapat secara mutlak dinyatakan sebagai salah satu identitas dirinya karena tingkat intelektual seseorang selalu dapat berubah berdasarkan usia mental dan usia kronologisnya.

          Sedangkan untuk kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), hingga saat ini belum ada alat yang dpat mengukurnya dengan jelas karena dua kecerdasan tersebut bersifat kualitatif bukan kuantitatif.

          Seperti halnya dengan alat ukur kecerdasan, indikator orang yang memilki IQ, EQ dan SQ juga tidak ada ketetuan yang jelas, sehingga untuk mengetahui seseorang tersebut memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual biasanya dilihat dari hal-hal yang biasanya ada pada orang yang memiliki IQ, EQ dan SQ tinggi dan dilihat berdasarkan kompone dari klasifikasi kecerdasan tersebut.

Orang yang memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang cukup tinggi dapat dilihat selain dari hasil tes, dapat terlihat juga bawa biasanya orang tersebut memiliki kemapuan matematis, memiliki kemampuan membayangka ruang, melihat sekeliling secara runtun atau menyeluruh, dapat mencari hubungan antara suatu bentuk dengan bentuk lain, memiliki kemapuan untuk mengenali, menyambung, dan merangkai kata-kata serta mencari hubungan antara satu kata dengan kata yang lainya, dan juga memiliki memori yang cukup bagus.

Seseorang dengan kecerdasan emosi (EQ) tinggi diindikatori memiliki hal-hal sebagai berikut :

-          Sadar diri, panada mengendalikan diri, dapat dipercaya, dapat beradaptasi dengan baik dan memiliki jiwa kreatif,

-          Bisa berempati, mampu memahami perasaan orang lain, bisa mengendaikan konflik, bisa bekerja sama dalam tim,

-          Mampu bergaul dan membangun sebuah persahabatan,

-          Dapat mempengaruhi orang lain,

-          Bersedia memikul tanggung jawab,

-          Berani bercita-cita,

-          Bermotivasi tinggi,

-          Selalu optimis,

-          Memiliki rasa ingin tahu yang besar, dan

-          Senang mengatur dan mengorganisasikan aktivitas.

Lain halnya dengan indikator-indikator dari orang yang memiliki IQ dan S yang cukup tinggi di atas, orang yang miliki kecerdasan spiritual yang tinggi tidak dapat dilihat dengan mudah karena kembali ke pengertian SQ, yaitu kemampuan seseorang untuk memecahkan persoalan makna dan nilai, untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa jalan hidup yang kita pilih memiliki makna yang lebih daripada yang lain, dari hal tersebut dapat dilihat bahwa kecerdasan spiritual adalah kecakapan yang lebih bersifat pribadi, sehingga semua kembali kepada individu itu sendiri dan kepada hubungannya dengan Sang Pencipta.

 

* Upaya apa saja yang dapat kita lakukan untuk mengoptimalisasikan IQ,

EQ, dan SQ.

  Selain dengan asupan gizi yang cukup dan seimbang ke dalam tubuh, ntuk mengoptimalisasikan kecerdasan intelektual atau IQ dapat diupayakan dengan melatih 7 kemampuan primer dari inteligensi umum, yaitu :

1.     Pemahaman verbal,

2.     Kefasihan menggunakan kata-kata,

3.     Kemampuan bilangan,

4.     Kemampuan ruang,

 

 

5.     Kemampuan mengingat,

6.     Kecepatan pengamatan,

7.     Kemampuan penalaran.

Untuk mengoptimalisasikan kecerdasan emosi (EQ) seseorang dapat dilakukan dengan mengasah kecerdasan emosi setiap individu yang meliputi :

-          Membiasakan diri menentukan perasaan dan tidak cepat-cepat menilai orang lain/situasi

-          Membiasakan diri menggunakan rasa ketika mengambil keputusan

-          Melatih diri untuk menggambarkan kekhawatiran

-          Membiasakan untuk mengerti perasaan orang lain

-          Melatih diri menunjukan empati

-          Melatih bertanggung jawab terhadap perasaannya sendiri

-          Melatih diri untuk mengelola perasaan dengan baik

-          Menghadapi segala hal secara positif.

Sedangkan untuk mengoptimalisasikan atau memfungsikan kecerdasan spiritual dapat dengan upaya sebagai berikut :

a.     Menggunakan aspek spiritual dalam menghadapi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan makna dan nilai

b.     Dengan melalui pendidikan agama

c.      Melatih diri untuk melihat sesuatu dengan mata hati.

Antara Remaja, Cinta, dan Islam

  

          Ada sebuah opini plesetan tentang kepanjangan dari kata remaja. Yaitu remang-remang, manja, dan jajan/jalan-jalan. Remang-remang identik dengan tempat yang disukai, manja adalah sifat yang dimiliki, jajan adalah hobi yang paling digemari atau dominan.

          Ketiga karakter tersebut, sering diidentifikasikan pada seorang remaja, atau istilah sekarang adalah Anak Baru Gede (ABG). Namun apakah benar semua remaja selalu identik dengan ketiga karakter tersebut. Sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab dengan cermat dan dengan data yang akurat, disertai observasi yang luas, mendalam, dan lengkap.

          Survey lapangan menunjukkan bahwa tidak semua remaja demikian, dengan adanya IKREMA (Ikatan Remaja Masjid At Taqwa), IPM (Ikatan Pemuda Masjid), dan lain-lain, sudah cukup sebagai data dan bukti yang otentik, bahwa sekian persen dari seratus persen, ada remaja yang memiliki karakter tersendiri yang identik dengan nama kelompok atau organisasi mereka.

          Lantas bagaimana, korelasinya antara remaja, cinta dengan Islam?

          Di samping ketiga karakter tersebut di atas, remaja selalu diidentikkan dengan yang serba manis dan indah. Sebagai contoh adalah slogan-slogan yang berbunyi: tiada seindah dan semanis cinta remaja, tiada semanis dan seindah masa remaja, dan seribu satu macam slogan lagi yang identik dengan itu.

          Slogan-slogan itu tidak muncul tanpa sebab, karena hasrat dan jiwa para remaja yang terasa selalu dibuai oleh cinta, cinta remaja. Bagi remaja, cinta adalah sesuatu yang penting dalam hidupnya, namun cinta seperti apakah itu?. Bila kita membahas apa itu cinta, rasanya tidak akan ada habisnya. Beda manusia, beda kepala, dan berbeda hati, maka akan berbeda pula arti cinta itu. Cinta itu luas tapi sempit, cinta itu indah tapi menyakitkan, dsb. Apa semua itu adalah cinta?

Lalu bagaimana Islam memandang remaja dan cinta?

Cara Islam memperhatikan dan memperingatkan remaja bisa kita lihat dari sisi usia misalnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, tentang lima perkara yang harus diperhatikan sebelum datangnya lima perkara. masalah remaja atau pemuda menduduki prioritas pertama yang berbunyi: jaga masa mudamu, sebelum masa tuamu.

          Ini menunjukkan betapa pentingnya masa muda atau remaja itu yang datang sekali dan tidak dapat terulang lagi semasa hidup di dunia. Oleh karena itu Islam begitu besar perhatiannya terhadap remaja atau pemuda. Sabda Rasulullah SAW, yang lain: Alloh mencintai orang tua yang gemar beribadah, tapi Alloh lebih mencintai seorang pemuda atau remaja yang gemar beribadah.

          Dari kedua hadits tersebut, betapa Alloh SWT dan RasulNya sangat memperhatikan remaja. Masa remaja, masa saat setiap pilihan yang diambil akan menentukan bagaimana dia selanjutnya, maka jadilah remaja bijak yang akan menentukan pilihan yang terbaik bagi semuanya.

          Kemudian cinta dalam Islam. Cinta dari segi pandangan Islam adalah bagaimana caranya seseorang mendapatkan cinta dari Alloh SWT, yang merupakan cinta paling tinggi dan hakiki. Dan syaratnya sudah Alloh jelaskan dalam QS. Al-Imron:31, Katakanlah,”Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadi untuk mendapatkan cinta dan ampunan Alloh SWT, ikutilah Rasululloh SAW dan apa yang dibawanya (Al-Qur’an dan As-Sunnah), berupa ucapan, perilaku, dan ketetapannya.

Dalam bentuk sya’ir, Rabi’ah al-Adawiyah(713-801 H),seorang sufiah yang sangat populer dengan konsep cintanya (mahabbah), mengungkapkan tentang cinta:

Aku mencintaiMu dengan dua cinta

Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu

Cinta karena diriku

Adalah keadaanku senantiasa mengingatmu

Cinta karena diriMu

Adalah keadaanMu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat

Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku

bagiMulah pujian untuk kesemuanya.

Dalam HR. At Thabrani juga disebutkan, ”sekuat-kuat ikatan iman adalah: berwali karena Alloh, bermusuhan karena Alloh, mencintai karena Alloh, dan membenci karena Alloh”. Jelas bahwa cinta hakiki itu hanya milik Alloh dan jika kita ingin mencintai seseorang atau sesuatu, maka cintailah semua itu karena Alloh. Wallahu’alam bishowab.

 

 

by. My Lovely Father (Abdullah Nakhel Kuncahyo)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.